Krakatau Posco | News & Events -

Contact
© 2019 Krakatau Posco

article thumb

Membangun Budaya Keselamatan melalui Safety Scoring Evaluation Program

Keselamatan kerja bukan hanya sekadar kepatuhan terhadap aturan, melainkan cerminan dari budaya, kepemimpinan, dan tanggung jawab bersama. Di lingkungan operasional berisiko tinggi seperti Blast Furnace (BF) dan Coke Plant, komitmen terhadap keselamatan menjadi pondasi utama dalam menjaga keberlangsungan operasi dan melindungi setiap insan baja yang terlibat di dalamnya.

Menjawab tantangan tersebut, BF dan Coke Maintenance Team KRAKATAU POSCO menginisiasi Safety Scoring Evaluation Program, sebuah program terstruktur yang dirancang untuk mengevaluasi sekaligus meningkatkan kinerja keselamatan individu secara berkelanjutan. Program ini hadir sebagai bagian dari penguatan pengawasan Kesehatan, Keselamatan, and Lingkungan (HSE), sejalan dengan visi misi perusahaan dalam upaya menekan potensi insiden kerja, mulai dari Near Miss, First Aid Injury (FAI), Medical Treatment Injury (MTI), hingga Lost Time Injury (LTI).

Berbeda dari pendekatan konvensional yang menitikberatkan pada sistem dan prosedur semata, Safety Scoring Evaluation Program menempatkan individu sebagai subjek utama keselamatan. Setiap insan baja di BF dan Coke Maintenance Team dievaluasi melalui sistem penilaian yang terukur, transparan, dan berkelanjutan.

Melalui program ini, perusahaan menetapkan target tahunan yang jelas, yakni nilai minimum 8,0 yang harus dicapai oleh setiap individu di akhir tahun. Skor tersebut menjadi indikator sejauh mana seseorang telah menerapkan perilaku kerja aman dalam aktivitas sehari-hari, sekaligus menjadi alat refleksi untuk perbaikan berkelanjutan.

Program ini dirancang dengan mengadopsi Herzberg’s Two Factor Theory, sebuah pendekatan psikologi kerja yang menekankan keseimbangan antara faktor dasar dan faktor pendorong motivasi. Dalam konteks keselamatan kerja, faktor dasar diwujudkan melalui kepatuhan terhadap standar HSE, seperti penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dan penerapan prosedur Hot Work. Kepatuhan terhadap aspek-aspek ini menjadi prasyarat mutlak untuk mencegah risiko dan ketidakpuasan kerja.

Di sisi lain, sistem penilaian, coaching, dan umpan balik yang terstruktur berperan sebagai faktor motivator. Pendekatan ini mendorong setiap individu untuk tidak hanya “patuh karena aturan”, tetapi juga termotivasi untuk menjadikan keselamatan sebagai bagian tak terpisahkan dari profesionalisme kerja.

Implementasi Safety Scoring Evaluation Program juga diperkuat oleh analisis data yang komprehensif. Berdasarkan hasil regresi data seluruh unit, ditemukan bahwa setiap 10 aktivitas STOP (Safety Observation Program) memiliki potensi untuk mengidentifikasi 1 Violation Card (VC) yang perlu dipublikasikan. Temuan ini menegaskan pentingnya aktivitas observasi sebagai langkah preventif dalam mencegah cedera sebelum kecelakaan terjadi.

Program ini juga menaruh perhatian khusus pada pelanggaran yang bersifat berulang. STOP Activity dengan pelanggar yang sama atau jenis pelanggaran yang berulang ditindaklanjuti melalui pemberian VC dan serious coaching, sebagai bentuk pembinaan yang lebih mendalam dan bertanggung jawab.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar pelanggaran keselamatan masih didominasi oleh isu penggunaan APD dan aktivitas Hot Work. Selain itu, data mencatat bahwa tiga mitra kerja utama KPMS, Daekyeong Plantec, dan KPDP menyumbang lebih dari 50% total pelanggaran.

Temuan ini menjadi dasar bagi perusahaan untuk menerapkan pendekatan yang lebih fokus, melalui penguatan coaching, peningkatan pengawasan lapangan, serta penegakan disiplin yang konsisten di area berisiko tinggi. Pendekatan ini tidak bertujuan untuk menghukum, melainkan untuk memastikan bahwa standar keselamatan dipahami dan diterapkan secara merata oleh seluruh pihak yang terlibat.

Sejak mulai diimplementasikan pada 1 Juni, Safety Scoring Evaluation Program menunjukkan dampak yang signifikan terhadap budaya keselamatan di BF and Coke Maintenance Team. Program ini berhasil meningkatkan tingkat kepatuhan, mendorong peningkatan pelaporan aktivitas STOP, serta memperkuat peran pengawasan di lapangan.

Lebih dari sekadar angka, perubahan yang paling terasa adalah peningkatan kesadaran keselamatan hingga 40%, yang tercermin dari perilaku kerja yang semakin disiplin, proaktif, dan saling mengingatkan. Keselamatan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban administratif, melainkan sebagai nilai bersama yang dijaga secara kolektif.

Safety Scoring Evaluation Program juga mencerminkan kepemimpinan Bujangnim dalam membangun disiplin keselamatan dan mendorong pengambilan keputusan berbasis data. Melalui program ini, PTKP menegaskan komitmennya untuk menjadikan keselamatan sebagai prioritas utama dalam setiap aktivitas operasional, sekaligus sebagai langkah nyata menuju target zero accident.

Dengan evaluasi yang konsisten, pembinaan yang berkelanjutan, dan keterlibatan aktif seluruh insan baja, Safety Scoring Evaluation Program menjadi bukti bahwa budaya keselamatan dapat dibangun secara sistematis dimulai dari kesadaran individu, diperkuat oleh kepemimpinan, dan dijaga melalui komitmen bersama.