Krakatau Posco | Berita & Kegiatan -

Contact
© 2019 Krakatau Posco

article thumb

Dari Baja untuk Pangan: KRAKATAU POSCO Dorong Pemanfaatan Slag Baja Jadi Pupuk Ramah Lingkungan

Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan dan pengembangan ekonomi sirkular terus diwujudkan oleh KRAKATAU POSCO, sebagai salah satu produsen baja terkemuka di Indonesia. Melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor, perusahaan berhasil memanfaatkan produk samping proses produksi baja Granulated Blast Furnace Slag (GBFS) menjadi bahan baku bernilai tinggi bagi sektor pertanian.

Inisiatif ini menjadi wujud nyata sinergi antara industri dan pertanian dalam mendukung ketahanan pangan nasional. GBFS, yang berasal dari proses pembuatan baja di pabrik KRAKATAU POSCO di Cilegon, mengandung unsur Kalsium Oksida (CaO) sebesar 40–47% dan Silikon Dioksida (SiO₂) sebesar 35–47%. dua unsur penting yang terbukti mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan pH, dan menunjang produktivitas hasil pertanian. 

Negara seperti Korea Selatan dan Jepang telah lama memanfaatkan slag baja sebagai pupuk dan pembenah tanah dalam sistem pertanian mereka. Kini, Indonesia mulai mengikuti langkah tersebut melalui komitmen KRAKATAU POSCO yang menggandeng berbagai mitra strategis, seperti PT KRT Green Indonesia.

Sebagai bentuk keseriusan, KRAKATAU POSCO pada Juni 2024 menandatangani kerja sama dengan Balai Pengujian Standard Instrument (BPSI) Tanah dan Pupuk di bawah Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi GBFS sebagai bahan penyubur tanah. Langkah ini kemudian dilanjutkan dengan uji lapangan bersama Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) dan POSCO Korea, guna memastikan efektivitas penggunaan GBFS di berbagai jenis lahan pertanian.

Produk pupuk hasil riset tersebut kini telah hadir di masyarakat dengan nama “PUSAKA HIJAU”, pupuk makro majemuk berbahan dasar Kalsium dan Silikat yang telah memperoleh izin edar dan sertifikasi SNI 9380:2025 Slag Besi/Baja sebagai Bahan Penyubur Tanah. Selain itu, bahan baku pupuk juga telah memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Puncak dari pengembangan ini ditandai dengan penandatanganan kontrak komersial antara PT KRT Green Indonesia dan PT Andalan Chemist Indonesia pada 15 Mei 2025 untuk pasokan 10.000 ton pupuk PUSAKA HIJAU selama satu tahun. Dalam acara tersebut, KRAKATAU POSCO turut hadir menegaskan dukungannya terhadap pengembangan produk samping industri baja menjadi solusi pertanian berkelanjutan.

Inovasi ini semakin mendapat perhatian publik setelah Anggota DPR RI Dapil Banten II, Edison Sitorus, membagikan pupuk berbahan dasar GBFS tersebut kepada para petani di sejumlah wilayah Kabupaten Serang, seperti Anyar, Keramatwatu, dan Pontang. Total sebanyak 50 ton pupuk disalurkan dalam kegiatan reses tersebut.

“Pupuk ini adalah contoh nyata bagaimana kolaborasi antara industri dan pertanian bisa saling menguatkan. Dari limbah baja yang dulunya tidak terpakai, kini menjadi sumber manfaat bagi para petani dan mendukung ketahanan pangan nasional,” ujar Edison Sitorus, Anggota DPR RI Dapil Banten II.

Selain meningkatkan kesuburan tanah, pupuk berbahan dasar slag baja ini juga berfungsi memperkuat batang tanaman, meningkatkan daya fotosintesis, serta membantu ketahanan tanaman terhadap hama. Dengan manfaat tersebut, petani dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan lahan pertanian.

KRAKATAU POSCO percaya bahwa inovasi ini sejalan dengan strategi perusahaan dalam mewujudkan visi Green with KRAKATAU POSCO yang menjadi kunci masa depan industri yang ramah lingkungan. GBFS adalah bukti bahwa produk samping industri baja pun dapat menjadi berkah bagi pertanian Indonesia. 

Melalui kolaborasi antara KRAKATAU POSCO, PT KRT Green Indonesia, serta dukungan berbagai pemangku kepentingan, inisiatif ini menjadi langkah nyata menuju transformasi industri hijau, di mana setiap hasil samping produksi baja dapat dimanfaatkan kembali untuk menciptakan nilai tambah bagi masyarakat, lingkungan, dan bangsa.